Menulis Mimpi
Oleh : Ayu Dyah Rahma
Musik
keras sejak tadi mengiringi berlalunya waktu bersama buntunya pikiran Linggar.
Ia pusing mencari ide yang tak kunjung ditemukan. Bingungnya tak berkesudahan.
Jam dinding telah menunjukkan pukul dua pagi. Ia masih saja berdiam diri
mencoba melayangkan pikiran, berusaha membuat imajinasi menyusun inspirasi
untuk menyelesaikan tugas pembuatan cerpen. Sedangkan waktu pengumpulan cerpen
tinggal nanti siang. Sampai sekarang, kertas dan layar monitor komputer di hadapannya
masih kosong. Belum sedikit pun tertulis oleh kata. Beberapa kali memulai,
selalu dihapus. Ia justru sibuk dengan camilan, kopi, dan makanan lain yang
sedari tadi sudah berkali-kali ditambah.
Linggar
terlanjur mengantuk. Ia mematikan musik keras yang disetel menggunakan
komputer. Ingin mencoba lebih berkonsentrasi mencari ketenangan. Namun Linggar
kelelahan, kelelahan mencari ide yang tak kunjung didapat. Ingin beristirahat
dan tidur agar mendapat ketenangan. Pikirannya pun melayang, raganya berpisah
dalam bunga-bunga tidur.
Dalam
lubang hitam, Linggar menyelami bunga tidur. Tiba-tiba saja, sudah pagi. Linggar
bangun kesiangan. Ketika bangun ia sudah menggunakan seragam sekolah lengkap
dan rapi. Ia melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 06.30 WIB. Ia bergegas
untuk berangkat ke sekolah. Linggar berlari mengejar bus yang akan
mengantarnya, “Hos, hos, hos.” Nafasnya memburu. Linggar terus berlari sambil
melambaikan tangannya. Berusaha mengejar laju bus yang sudah melesat jauh. Usahanya
sia-sia. Ia sempoyongan.
Tak
terasa peluh telah membasahi sekujur tubuhnya. Matahari yang mulai terik tak
memperdulikan lelahnya. Ia melihat jam tangan, sudah pukul 07.05 WIB. Celaka,
lima menit terlambat, dan hingga kini ia belum menuju ke sekolah. Dirogoh uang
dalam sakunya, ternyata tak cukup untuk membayar ongkos taksi. Lengkap sudah
deritanya pagi itu. Kini Linggar hanya bisa pasrah menunggu kedatangan bus
selanjutnya di halte.
Sepuluh
menit berlalu, akhirnya bus yang ditunggu datang juga. Linggar pun langsung
masuk dalam bus. Di dalam bus, penuh sesak para penumpang lain yang sibuk
dengan keperluan masing-masing. Ada yang menata barang bawaannya, ada yang
sibuk berkipas-kipas, mengelap keringat, dan yang paling sibuk, sepertinya
Linggar. Ia berusaha mencari tempat agar dapat bernafas dengan leluasa,
setidaknya sampai sekolah.
Sesampainya
di sekolah, Linggar merasa suasananya berubah menjadi mencekam. Tiba-tiba saja
mendung menyelimuti langit. Perasaannya tak enak, Linggar merasa ada yan tak
beres, namun ia mengacuhkannya. Dari luar pintu gerbang, ia melihat Pak Eman
tampak sibuk menyaksikan acara TV di dalam pos satpam. Linggar lalu memanggil
Pak Eman agar membukakan pintu gerbang untuknya. Raut wajah sangar menyelimuti
wajah Pak Eman. Ia berjalan membawa kunci dan membukakan pintu gerbang sekolah.
“Langsung
masuk ke ruang BP dan urus surat izin masuk kelas sama guru piket karena keterlambatanmu
yang udah hampir satu jam mata pelajaran.” Pak Eman membentak-bentak tak
seperti biasanya.
“B…b…baik
Pak.” Sahut Linggar gugup dan berlalu menuju ruang BP.
Di
ruang BP, bapak ibu guru sepertinya sudah siap menghujani Linggar dengan banyak
teguran. Mereka mendengus dan mengeluarkan dua tanduk yang menyala merah di
kepala. Mereka memberi poin sepuluh untuk Linggar karena ia terlambat lebih
dari 30 menit. Linggar terkejut, tapi ia hanya bisa pasrah. Ia bingung, kenapa
semua jadi terasa aneh dan menakutkan. Setelah mendengar teguran yang
bertubi-tubi dan amarah mereka ia rasa mereda, Linggar coba mengakhiri teguran
itu karena ia sudah tak tahan.
Linggar
berjalan melewati koridor sekolah. Bukannya lega, tapi ia semakin ragu
melangkahkan kaki menuju kelas. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang
lebih menakutkan daripada tadi. Tapi mau bagaimana lagi. Linggar tetap berusaha
meyakinkan langkahnya.
Hawa di
sekeliling ruang itu terasa dingin. Ia terus mendekati pintu masuk ruang kelas.
Terik matahari di siang hari berubah menjadi gelap, angin bertiup semakin
kencang. Beberapa kali petir menyambar-nyambar di kejauhan. Linggar mengetuk
pintu kelas perlahan. Dari dalam kelas, suara Pak Roso terdengar mengerikan.
“Masuk!”
Seru Pak Roso. Linggar membuka pintu dengan gemetar, engsel pintu berbunyi
seperti jeritan batin Linggar yang berteriak, tidak!
Seketika,
mukanya pucat. Linggar mengedarkan pandangan ke seisi kelas. Tatapan
teman-temannya kini tertuju pada Linggar. Seolah ingin menerkanya.
“Sebelumnya,
kamu tahu salahmu?” Tanya Pak Roso mulai naik darah. Matanya merah dan
kepalanya juga mengeluarkan tanduk menyala merah.
Ketika
Linggar hendak menjawab, Lisa sang penanggungjawab pengumpulan tugas cerpen
memotong pembicaraan, “Mana naskah cerpenmu? Diantara semua teman-teman
sekelas, hanya tinggal kamu yang belum mengumpulkan tugas.” Kata Lisa geram.
Tanpa
berucap, Linggar bergegas membuka tas dan mengeluarkn mapnya. Ia menyerahkan cerpan
yang ditugaskan Pak Roso dua minggu lalu untuk dikumpulkan.
Lisa
melongo, “Kosong?! Kamu bercanda? Aku baru aja selesai dimarahin Pak Roso
karena tugas kita nggak bisa selesai dan dikumpulin tepat waktu. Sekarang kamu
dateng terlambat dan nyerahin kertas kosong ke aku. Maumu apa? Kamu bener-benar
buat aku marah!” Lisa meluapkan amarahnya dan seketika itu pula ia menjambak
rambut Linggar.
“Kenapa
kamu jadi semarah ini? Izinin aku buat berpikir tenang supaya aku punya ide
buat nulis cerpen. Tolong lepasin jambakan rambutmu, sakit!” Linggar berseru
memohon sambil mencoba menghindar dari amukan Lisa.
“Sudah
terlambat!” Seru Lisa semakin mengamuk. Sekarang wajah Lisa merah padam. Dari
mulutnya, keluar gigi taring yang amat tajam. Lisa menyeringai dan hendak
menggigit Linggar. Pak Roso dan teman-teman yang lain bahkan tak coba melerai,
malah ikut mengerubungi dan bersiap untuk menerkam Linggar.
“Ampuuuun!
Toloooong! Maafkan kesalahanku!” Rintih Linggar kesakitan.
“Kamu
sendiri yang menjadikan hari ini buruk!” Seru mereka serempak.
Dalam
ketidak berdayaannya, Linggar menatap satu persatu wajah Lisa, Pak Roso dan
teman-teman lainnya sambil terus berusaha memohon agar siksaan itu dihentikan. Namun
rasanya percuma, sepertinya setan yang merasuki mereka sangat kuat. Mereka
menakutkan, gigi mereka berubah menjadi taring yang tajam. Kuku jari mereka
amat panjang dan runcing. Kuku-kuku itu pun telah berhasil mencakar, merobek,
dan mencabik-cabik Linggar.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!”
Seru Linggar tak kuasa menahan sakit. Ia amat ketakutan.
“Ini
tidak mungkin! Mustahil!” Katanya sambil berusaha lari dari amukan itu.
Linggar
mencari lubang hitam yang telah menghantarkannya ke peristiwa ini. Ternyata
lubang itu berada di luar kelas. Linggar mengejar lubang hitam yang semakin
menjauh. Ia berlari ke dalamnya. Jatuh, dan hilang di pusaran hitam.
“Astagfirullahal’adzim!”
Linggar terbangun dari mimpi buruknya.
Pensil
yang digenggamnya patah karena cengkeraman tangannya amat kuat. Mungkin karena
mimpi buruknya barusan. Kertas dan layar monitor komputernya kosong melompong.
Gelas bekas ia minum kopi, dan sisa-siasa makanan camilannya mengelilingi meja
belajar.
“Ya
Allah, aku ketiduran di kursi ini. Syukurlah, semua itu cuma mimpi.” Kata
Linggar bersyukur walapun belum sepenuhnya sadar.
“Ampuni
aku.” Bisik Linggar dengan suara parau.
Beberapa
saat setelah ia benar-benar sadar, ia terkejut katika melihat cerpennya belum
satu katapun dimulai. Apa yang harus aku lakukan? Sampai sekarang pun aku masih
saja bingung. Pikir Linggar sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kenapa aku justru
bermimpi buruk? Kenapa aku tidak bermimipi menemukan inspirasi untuk membuat
cerpen? Tapi syukurlah, aku tidak mati. Batinnya.
“Sekarang
udah jam tujuh. Ya Allah. Dalam waktu tujuh jam aku harus bisa membuat dan
menyelesaikan satu cerpen. Huf, untung hari ini masuk siang,” Katanya pada diri
sendiri.
Lingar
lalu menuju ke ruang makan dan mengoleskan selai coklat ke roti tawar yang
dipegangnya sekedar untuk mengganjal perut. Setelah kenyang melahap sarapan
paginya, Linggar menuju ke kamar. Ia kembali duduk di kursi belajarnya.
Kertasnya kosong, layarmonitor computer yang sejak semalam menyala masih kosong
juga.
“Huft.”
Linggar menghela nafas dan menyandarkan duduknya. Ia mulai putus asa.
Pikirannya masih tertuju pada mimpi buruknya tadi.
Aha,
kenapa tak ku jadikan cerpen saja mimpi buruk tadi. Ideku bagus juga. Pikirnya
sambil tersenyum girang. Linggar pun mulai mengetik. Menulis kata demi kata,
merangkai kata menjadi kalimat. Memadukan kalimat menjadi paragraf, dan ia
terus menulis. Linggar menuliskan ceritanya dengan lancar. Ia menceritakan
detail tentang keseluruhan mimpi yang dialaminya tadi. Ceritanya mengalir.
Linggar benar-benar semangat menyelesaikan cerita itu.
Tiga
jam berlalu.
“Syukurlah,
akhirnya selesai juga. Ternyata semakin terdesak waktu, semakin ada jalan
keluar.” Katanya menasehati diri sendiri.
“Setiap
ada kesulitan pasti diiringi kemudahan pada akhirnya.” Sahutnya riang sambil
mengedit naskah yang telah ia tulis.
Kemudian
ia mencetaknya.
“Yuhui.
Selesai. Walaupun mungkin naskah ini tidak terlalu bagus, tapi setidaknya aku
sudah berusaha dan menurutku memang tidak terlalu buruk.” Katanya lagi.
Masih
ada waktu tiga jam lagi sebelum berangkat sekolah dan tugasnya sudah jadi.
Pikirnya. Linggar berjalan ke dapur lalu membuat mie goreng untuk makan siang.
Kemudian ia bersiap untuk sekolah. Perasaannnya tenang. Pikirannya menjadi
segar. Linggar percaya diri dan melangkahkan kaki dengan yakin untuk berangkat
sekolah. Linggar menunggu bus di halte bus dekat rumahnya. Tak lama kemudian ia
mendapatkan bus dan segera sampai ke sekolah.
Sesampainya
di sekolah. Linggar melangkah memasuki sekolah melalui gerbang utama. Ia
mencoba menghindari Pak Eman karena takut dimarahi lagi, seperti kejadian dalam
mimpi semalam. Dari kejauhan, justru Pak Eman tersenyum ramah dan menyapanya.
Linggar yang coba menghindar terkejut bukan main. Linggar balas menyapa dan
tersenyum. Kemudian ia berlari menuju kelas. Di kelas, Linggar lalu menghampiri
Lisa dan menyerahkan naskah cerpennnya kepada Lisa.
“Waow,
siswa teladan, kamu lho yang pertama kali ngumpulin tugas ini.” Kata Lisa
memuji.
“Yah,
seenggaknya aku udah nyelesaiin tugas. Makasih buat pujiannya.” Balas Linggar
sambil berlalu dan kembali ke tempat duduknya. Lisa membaca naskah cerpen
Linggar.
Lalu
berbisik lirih, “Kereeen.”
Sesaat
kemudian bel tanda masuk pelajaran berbunyi. Pak Roso, guru Bahasa Indonesia
yang terkenal tegas dan displin itu masuk membawa tas dan buku-bukunya. Pak
Roso membuka pelajaran dengan mengucap salam. Kemudian meminta Lisa agar dua
cerpen yang sekiranya menarik untuk dibacakan di depan kelas.
“Ayo,
satu cerpen dari putra dan satu cerpen dari putri. Pilih yang sekiranya bagus
menurut pendapatmu Lisa.” Kata Pak Roso mempercayakan pada Lisa selaku
penanggungjawab pengumpulan naskah cerpen.
“Emm,
ini Pak.” Sahut Lisa sermbari memberikan dua naskah cerpen pilihannya.
“Bunga
Tidur dan Roket Tikus. Semua setuju, kedua cerpen ini dibacakan?” Tanya Pak
Roso pada seluruh siswa.
“Sepertinya
kedua judul itu menarik Pak, coba saja dibacakan di depan kelas.” Sahut salah
satu siswa.
“Baik.
Sekarang siapa yang bersedia membacakan salah satu dari kedua cerpen ini di
depan kelas?” Tanya Pak Roso sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penghuni
kelas.
“Bunga
Tidur itu kan cerpenku?” Bisik Linggar lirih pada dirinya sendiri.
Ia
bingung, kenapa Lisa memilih cerpennya untuk dibacakan. Linggar mengernyitkan
dahi. Dari kejauhan Linggar bertanya dengan bahasa isyarat kepada Lisa.
Lisa
tersenyum, “Cerpenmu keren!” Serunya dari kajauhan.
Linggar
membalas dengan senyum tipis.,“Terimakasih. Semoga.”
Sesaat
ruang kelas menjadi hening. Kemudian Bobi mengacungkan tangan. “Saya bersedia
membacakan cerpen yang berjudul Roket Tikus, Pak.” Bobi maju ke depan kelas dan
dengan senang hati membaca cerpen buatannya.
Satu
jam pelajaran usai. Pak Roso memberikan komentar yang tidak terlalu baik pada
pada cerpen karya Bobi. Di tempat duduknya, Bobi tertunduk lesu dan tampaknya
ia kecewa. Sekarang giliran cerpen karya Linggar. Sudah beberapa kali Pak Roso
meminta salah satu siswa untuk menjadi suksa relawan untuk membacakan, namun
tak ada yang menyahut. Akhirnya setelah sekian lama hening, dengan senang hati
Ruri maju ke depan kelas untuk membaca cerpen Bunga Tidur karya Linggar. Dua
puluh menit berlalu. Ruri telah usai membaca. Riuh tepuk tangan dan pujian
ditujukan pada Linggar.
Pak Roso
meminta untuk tenang lalu berkomentar, “Karyamu mengagumkan. Sederhana namun
mengesankan.”
“Terimakasih
Pak. Terimakasih teman-teman.” Sahut linggar yang merasa tersanjung.
“Itu
kisah nyatamu?” Tanya Pak Roso menyelidik.
“Ummm,
iya Pak, tapi sudah saya beri banyak perubahan.” Jawab Linggar jujur. Ia memang
sengaja mengubah bagian yang sekiranya bisa menyinggung perasaan pak guru dan
teman-teman.
“Bagus,
bagus. Ya, nilai kamu sudah memuaskan.” Kata Pak Roso manggut-manggut sembari
menuliskan nilai di buku miliknya.
“Sungguh
Pak? Terimakasih.” Sahut Linggar tak percaya.
Pak
Roso membalas dengan senyum.
Bel jam
pelajaran kedua pun berbunyi, menandakan Pelajaran Bahasa Indonesia telah usai.
Pak Roso menutup pelajaran dengan mengucap salam dan keluar dari kelas. Spontan,
siswa siswi kelas itu mengerubungi Linggar. Mereka memberi ucapan selamat.
Sungguh
kejadian yang nampaknya mustahil, diberi tanggapan positif dari Pak roso yang
yang terkenal sebagai tukang kritik pedas. Sebuah keajaiban mengubah pak Roso
menjadi guru yang menyenangkan seperti ketika pelajaran tadi.
“Rasanya
aku masih mimpi.” Kata Linggar sambil mencubiti pipinya sendiri.
“Kamu
nggak mimpi Linggar. Selamat ya.” Kata teman-teman Linggar bersamaan.
“Syukurlah,
kalian nggak jadi drakula atau serigala yang mau menerkamku.” Sahut Linggar mengaitkan
dengan mimpi buruknya.
“Apa maksudmu?
Tadi nggak ada cerita begitu.” Kata Ruri bingung. Teman-teman yang lain melotot
dan bersiap menggelitiki Linggar.
Linggar
berjalan mundur dan berlari menjauh, “Ampun, bercanda!” Seru Linggar sambil
meringis.
Mereka
berlarian keluar kelas mengejar Linggar. Bercanda, saling berkejaran.
Linggar
percaya, berusaha semampunya pasti tak akan sia-sia. Sedangkan keputusannya,
terserah pada Yang Kuasa. J []
Ayu
Dyah Rahma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar